Iga Riana punya cara tersendiri untuk menjaga warisan
keluarga. Demi usaha patung ukiran yang telah dirintis orang tuanya, Iga rela
pindah dari Gianyar, Bali ke Jakarta. Dia belum kenal Jakarta, namun demi
membesarkan usaha warisan keluarga, dia pilih pindah dari kampung halamannya ke
ibukota. "Dulu keluarga kami hanya berjualan di Bali, tapi saat ini kami
sudah bisa ekspor produk patung ukiran," kata ibu satu anak itu. Orang
tuanya memiliki lima anak, namun yang fokus meneruskan usaha keluarga hanya Iga
Riana dan adiknya. Oleh karena itu, Iga sangat menginginkan usaha patung ukiran
tersebut berkembang semakin besar. Apalagi usaha tersebutjuga menjadi wadah
bagi banyak pematung di Gianyar untuk memasarkan hasil karyanya. Meski butuh perjuangan
di Jakarta, Iga telah sukses membuka galeri ritel di berbagai pusat
perbelanjaan ternama ibukota seperti Sarinah di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat,
Pasaraya Grande Jakarta Selatan, dan Galeri Indonesia Wow - SMESCO Indonesia. Berkat
ketekunan Iga dan adiknya itulah, usaha patung ukirnya pun sukses menembus
pasar ekspor. "Usaha ini sudah dirintis sejak 30 tahun lalu, sekarang yang
mengambil alih saya khusus untuk pasar Jakarta," urai Iga. Pusat
produksinya di Gianyar menjadi wadah para pematung tradisional Bali dan
memproduksi kerajinan tangan dari mulai patung hingga aksesories rumah tangga. "Dalam
menjalankan usaha itu jangan mudah menyerah, awalnya memang sulit mencari celah
pasar tapi begitu kita temukan ini akan mudah karena pemain di bidang ini
sangat sedikit. Jadi peluangnya masih besar," katanya. Bahan Baku Bisnis
tak semudah yang dipikirkan, ketika Iga telah menemukan ceruk pasar yang tepat,
ia terkendala semakin minimnya mendapatkan suplai kayu eben dan waru. Umur kayu
yang hingga puluhan tahun mengharuskannya untuk mencari alternatif bahan baku
lain yang lebih murah dan mudah didapat. Maka ia pun mengkaji kemungkinan penggunaan
bahan baku kayu lain seperti albasia dan sonokeling yang umur tanamannya lebih
pendek. "Bahan baku kayu eben terutama semakin langka akhirnya kami tidak
bisa produksi banyak, lalu sekarang mencoba dengan kayualbasia yang lebih mudah
terutama untuk produk yang diekspor," kata perempuan yang tinggal di
bilangan Cinere Depok itu. Iga menyadari inovasi merupakan rumus untuk bisa
bertahan. "Sekarang ini kalau kita berpangku tangan pada kayu eben kita
akan sulit berkembang," katanya.
Oleh karena itu ia juga melakukan riset untuk
menggunakan bahan baku kayu gaharu ataupun kayu cendana yang relatif lebih
mudah untuk didapat. Produk yang dihasilkan pun bukan semata patung ukiran namun
merambah ke aksesories dari mulai gelang koral ataupun gelang kayu. Harga
ditetapkan beragam tergantung pada jenis ukiran, jenis kayu, hingga ukuran
produk. "Kalau kayu eben berkisarRp500.000 sampai puluhan juta tapi kalau kayu
sonokeling bisa hanya setengah harga itu," katanya. Ke depan, Iga ingin
mengembangkan usahanya pada pemenuhan permintaan untuk wall deco berkonsep
modern tradisional. Iga ingin produk yang dihasilkannya memiliki fungsi selain
sebagai penghias ruangan. Sebuah karya seni berdaya guna selain memiliki estetika.* Artikel ini bisa di unduh disini Magazine Edisi 4-2016
No comments