Sambal kemasan Chili Bags

Kuliner Indonesia identik dengan sambal. Tak ada sambal, makan rasanya hambar. Begitulah yang dirasakan kebanyakan orang. Sambal sudah menjadi keharusan ada di meja makan. Tak salah bila akhirnya cabe menjadi komoditas penting yang mesti tersedia di pasar-pasar.
Salah satu penggemar sambal pedas itu bernama Yennie Putra, ibu rumah tangga tinggal di Bogor. Yennie mengaku sangat menyukai sambal pedas sehingga kalau saat makan tanpa ada sambal terasa ada sesuatu yang kurang. Terkadang saat bepergian ke luar kota dia tidak menemukan sambal sesuai kegemarannya. Maka terbetiklah ide bisnis. Bagaimana kalau menyediakan Sambal untuk keluarga-keluarga karena tidak semua ibu rumah tangga telaten membuat Sambal.
Mulailah Yennie bereksperimen membuat sambal di rumahnya sehingga menghasilkan beberapa jenis sambal khas daerah. Setelah melakukan percobaan dan mendapat respon positif dari teman-temannya, akhirnya Yennie memutuskan untuk menjalankan usaha home industri Sambal. Di antara Sambal yang dia produksi adalah Sambal Roa khas Sulawesi yang menggunakan ikan Roa dari Sulawesi dan Maluku, juga Sambal Andaliman yang menggunakan jeruk seukuran merica yang hanya tumbuh di Karo Sumatera Utara.
Ada juga Sambal Ikan Kayu yang bahan ikannya berasal dari Aceh, Sambal Jambal yang menggunakan ikan Jambal, Sambal Teri, Sambal Petai, Sambal Terasi dan sebagainya. “Bahan-bahan tersebut saya pesan ke saudara dan teman dan mereka kirim ke Bogor. Dari situlah bahan-bahan tersebut kami olah menjadi Sambal dengan ciri khas daerah yang asli,” ujar Yennie.
Mulai menjalankan usaha Sambal di akhir 2013, kini Yennie telah memasarkan lebih dari 20 jenis Sambal khas daerah. Segmen pasar yang dibidik saat ini adalah ibu-ibu rumah tangga yang mencari praktis dalam menyediakan sambal, serta orang-orang yang hidup di perantauan namun rindu dengan sambal khas daerah asalnya.
Dari getok tular memperkenalkan produk Sambal-nya, kini Sambal produknya sudah dapat dibeli di sejumlah super market seperti Carrefour, Diamond, Alun-Alun Grand Indonesia, koperasi-koperasi Karyawan seperti Kopkar Bank Indonesia, Kopkar MNC Group, Kopkar Polda Metro Jaya, serta UKM Galeri di Gedung SMESCO.
Selain itu, Yennie juga menjual Sambalnya ke para reseller khususnya di Jabodetabek untuk kemudian dipasarkan kembali ke pelanggan-pelanggan. “Sambal kami menggunkaan merek CHILLI BAGS, yang maksudnya sambal yang bisa dibawa ke mana-mana,” tutur Yennie.
Sebagai produk olahan, Yennie mengutarakan Sambal CHILLI BAGS diproduksi melalui proses pasteurisasi. Jika disimpan dalam kondisi kemasan tertutup daya tahannya sampai 1,5 tahun, sedangkan dalam keadaan kemasan terbuka di suhu ruang maka daya tahan sambal tersebut hanya bertahan satu minggu.
Sebagai produk Sambal yang menggunakan bahan-bahan asli, Yennie mengakui saat ini harganya di atas harga sambal kemasan dari pabrikan besar. Hal itu karena dia tidak menggunakan tambahan bahan pati termodifikasi yang dipakai pabrikan besar untuk menambah volume produk. Konsekwensinya memang produk Sambal CHILLI BAGS harganya lebih premium dengan konsumen yang lebih kecil.
“Tapi kami memang mau masuk ke pasar yang lebih luas yang tentunya kami masih terus melakukan eksperimen bagaimana agar produk Sambal CHILLI BAGS bisa diproduksi lebih missal dengan harga lebih ekonomis sehingga dapat menjangkau pasar kelas menengah ke bawah yang jumlahnya sangat besar,” ungkapnya.
Selain itu, Yennie juga akan mengubah packaging yang memungkinkan produk Sambalnya bisa dikirim ke luar kota dan ekspor dengan tanpa mengalami kerusakan. Saat ini kemasan Sambalnya menggunakan botol kaca yang bisa pecah apabila terbentur benda keras. “Kemasan memang menjadi target perbaikan kami ke depan sehingga kami bisa melayani pasar yang lebih luas di luar daerah maupun ekspor.”
Yennie menambahkan, kendala lain dari bisnis Sambal yang dilakoninya adalah fluktuasi harga cabe rawit yang seringkali jauh di atas patokan. Dia menyontohkan, saat ini harga rawit mencapai Rp 80.000/ kilogram, jauh di atas perhitungan bisnisnya yang hanya dipatok Rp 20.000 – Rp 30.000/kilogram.
Kondisi tersebut juga harus diatasi misalnya dengan bekerjasama dengan petani rawit ataupun dengan memiliki freezer yang bisa penyimpanan rawit dalam jangka waktu lebih panjang. Yang pasti, menurut Yennie, bisnis usaha Sambal cukup prospektif untuk dijalankan karena jumlah orang Indonesia juga terus meningkat dan penggemar Sambal juga semakin banyak. (Edy Sasmito)

No comments

Powered by Blogger.