Enterperneurship
Rainer Tobing: Menjaga Keaslian Kain Sutra Indonesia
Dalam kasta perkainan, kain sutra termasuk kain kategori kelas atas alias nomor wahid. Sejak zaman dahulu, sebelum uang dikenal sebagai alat transaksi, kain sutra menjadi media tukar menukar barang baik secara pribadi, suku, ataupun bangsa. Nilainya pun terbilang tinggi hampir sama dengan nilai emas dan permata. Hingga sekarang, kain sutra masih tetap menjadi barang eksklusif. Ini terbukti dengan harga yang selangit. Di Tanah Air, perkembangan kain sutra terbilang bagus. Meskipun belum dapat menyalip kapasitas produksi sutra negeri Tiongkok dan Brasil, kain sutra Indonesia termasuk yang diperhitungkan di kancah bisnis kain yang bahan dasarnya dari kepompong ulat sutra ini. Salah satu yang membuat kain sutra Indonesia diperhitungkan adalah kualitasnya. Bahan dasar yang digunakan untuk kain masih alami bukan sintetis. Salah satu pengusaha kain sutra yang tergabung dalam unit usaha kecil menengah (UKM) Shining Silk, Rainer P. Tobing mengatakan, ciri khas yang membedakan produk sutra Indonesia dengan yang lain adalah bahan dasarnya yang alami. Kealamian bahannya membuat kain sutra Indonesia bernilai jual tinggi.
Energi dan Agribisnis kepada Smesco Magazine. Usaha pembuatan kain sutra yang digagas Rainer menggabungkan semua sektor mulai dari hulu hingga hilir. Dari petani tanaman murbei, pembibitan ulatnya, penenun, hingga pengrajin menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Semuanya ditanam dan diolah di Indonesia. “Karena itu, kain sutra kami 99,9% asli Indonesia, tidak ada bahan luar. Kami memiliki kebanggaan atas produk ini. Kami harus tunjukan bahwa produk kain sutra kami bisa menjadi kebanggaan Indonesia,” katanya penuh harap. Menurut Rainer,
Indonesia berpotensi menyaingi bahkan menyalip raksasa produsen terbesar kain sutra, Tiongkok. Hal itu bisa terwujud dengan upaya dan juga dukungan berbagai pihak antara lain adanya kebijakan berpihak dari Kementerian Kehutanan dan Pemda (Pemerintah Daerah) terkait penyediaan lahan untuk tanaman murbei sebagai pakan ulat sutra, penyedian telur ulat yang berkualitas supaya hasilnya mumpuni serta pelatihan berkelanjutan bagi UKM-UKM terkait. “Indonesia yang hanya punya dua musim, cocok untuk budi daya ulat sutra karena dapat memberikan panen hingga delapan kali. Adapun di Tiongkok, dengan empat musimnya, hanya mampu panen paling banyak empat kali. Ini jelas menjadi keuntungan bagi kita untuk pengembangan produksi ulat atau kepompong sutera,” jelas Rainer. Saat ini, kapasitas produksi kain sutra dari UKM yang dipimpin Rainer Tobing mencapai 1000 meter/bulan. Produk pengembangan kain sutra dari usahanya dijadikan beberapa produk pakaian jadi
berbahan 100% sutra. “Dalam sebulan kami dapat pemasukan kurang lebih 100 juta,” ungkapnya. Memasuki tahun pasar bebas ASEAN pada 2015 nanti, Rainer tidak terlalu khawatir dengan masuknya barang luar kepasar Indonesia.
Menurut bapak empat anak ini, dengan kualitas produk yang terjamin dan keyakinan bahwa konsumen dalam negeri percaya dengan produk lokal, kain sutra Indonesia akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Smesco Magazine II/2014
“Kami selalu mengutamakan kualitas. Karena itu, bahan baku kain sutra kami harus berbahan dasar alami dan berasal dari Indonesia. Ini yang membedakan kain kami dengan kain asal Tiongkok atau yang lainnya,” kata Rainer yang juga Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta bidang Industri,
Energi dan Agribisnis kepada Smesco Magazine. Usaha pembuatan kain sutra yang digagas Rainer menggabungkan semua sektor mulai dari hulu hingga hilir. Dari petani tanaman murbei, pembibitan ulatnya, penenun, hingga pengrajin menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Semuanya ditanam dan diolah di Indonesia. “Karena itu, kain sutra kami 99,9% asli Indonesia, tidak ada bahan luar. Kami memiliki kebanggaan atas produk ini. Kami harus tunjukan bahwa produk kain sutra kami bisa menjadi kebanggaan Indonesia,” katanya penuh harap. Menurut Rainer,
Indonesia berpotensi menyaingi bahkan menyalip raksasa produsen terbesar kain sutra, Tiongkok. Hal itu bisa terwujud dengan upaya dan juga dukungan berbagai pihak antara lain adanya kebijakan berpihak dari Kementerian Kehutanan dan Pemda (Pemerintah Daerah) terkait penyediaan lahan untuk tanaman murbei sebagai pakan ulat sutra, penyedian telur ulat yang berkualitas supaya hasilnya mumpuni serta pelatihan berkelanjutan bagi UKM-UKM terkait. “Indonesia yang hanya punya dua musim, cocok untuk budi daya ulat sutra karena dapat memberikan panen hingga delapan kali. Adapun di Tiongkok, dengan empat musimnya, hanya mampu panen paling banyak empat kali. Ini jelas menjadi keuntungan bagi kita untuk pengembangan produksi ulat atau kepompong sutera,” jelas Rainer. Saat ini, kapasitas produksi kain sutra dari UKM yang dipimpin Rainer Tobing mencapai 1000 meter/bulan. Produk pengembangan kain sutra dari usahanya dijadikan beberapa produk pakaian jadi
berbahan 100% sutra. “Dalam sebulan kami dapat pemasukan kurang lebih 100 juta,” ungkapnya. Memasuki tahun pasar bebas ASEAN pada 2015 nanti, Rainer tidak terlalu khawatir dengan masuknya barang luar kepasar Indonesia.
"Silk Kkain sutra kami 99,9% asli Indonesia. Tidak ada bahan luar. Kami memiliki kebanggaan atas produk ini. Kami harus tunjukan bahwa produk kain sutra kami bisa menjadi kebanggaan Indonesia"
Menurut bapak empat anak ini, dengan kualitas produk yang terjamin dan keyakinan bahwa konsumen dalam negeri percaya dengan produk lokal, kain sutra Indonesia akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Smesco Magazine II/2014
No comments